Untuk info seminar dan mengundang sebagai pembicara seminar hubungi 021-7364885 atau via email: jarotwj@yahoo.com

Kamis, 30 September 2010

WAJAH SENYUM

Saya mengamati banyak orang sukses, maka saya mendapati banyak dari mereka memiliki wajah senyum. Sehingga muncul beberapa julukan. Misalnya, Presiden Suharto mendapat julukan “The Smiling General”. Lim Siu Liong mendapat julukan “The Smiling Bussinessman”. Bill Gate mendapat julukan “The Smiling Engineer”. Atau dalam film-film yang selalu memerankan tokoh utama, cukup banyak yang memiliki wajah senyum. Demikian juga aktor yang memerankan James Bond pastilah orang yang ‘the smiling man’.

Kita melihat orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang memiliki wajah senyum. Atau bisa saya katakan, memiliki selera humor. Karena itu, kalau Anda mau sukses, kembangkanlah sikap humor Anda. Sebab engkau akan menjadi orang yang membangun hubungan yang hebat. Keberadaanmu disukai teman-teman. Kehadiranmu membawa suasana ceria dan engkau dikenang oleh orang. Karena orang yang sukses adalah orang pembangun hubungan. Orang yang sukses adalah orang yang memiliki banyak teman. Untuk membangun hubungan maka sikap humor dan wajah senyum ini perlu dikembangkan.

Yang menarik bagi saya adalah pendapat dari Dr. Emiller. Ia adalah direktur dari prefentif cardiologi Meryland Medical Center, Baltimore, Amerika. Ia menyatakan bahwa bila orang stress, maka itu akan memacu kerusakan endopiliun yaitu pembuluh arteri jantung, serta mendorong terciptanya kolesterol dalam pembuluh darah. Saat orang stress juga akan memicu hormon adrenalin yang membuat jantung berdebar keras tidak beraturan.

Pendapat yang lain dikemukakan Dr. Lieberg, pakar neuromologi di Lomelinda University School of Medicine yang menyatakan bahwa stress menghasilkan hormon kortisol yang menyebabkan penurunan daya tahan tubuh. Sebab hormon kortisol menekan kinerja hormon IGE, yaitu hormon imunitas. Kebalikannya, ketika orang senang, tertawa, bersukacita, melimpah dengan syukur, maka tubuh mengeluarkan hormon endorphin, serotonim dan melatonim yang sangat dibutuhkan oleh otak. Melatonim membuat rasa nyaman dan tenang, bahkan bisa membuat orang tidur pulas. Dalam situasi yang tenang, saya percaya orang akan bekerja lebih optimal, mengambil keputusan dengan lebih tepat, bahkan hidup bahagia dan sehat, sebab kekebalan tubuhnya meningkat.

Jadi apa artinya orang sukses kalau cepat mati. Karena itu, kalau engkau ingin sukses, bahagia, umur panjang, maka kembangkanlah sikap humor. Milikilah wajah senyum.

SIKAP POSITIF

Orang yang sukses adalah orang yang berpikir positif, bersikap positif, bereaksi positif, menilai positif dan mengingat hal-hal yang positif. Masalahnya orang lebih banyak mengingat yang buruk daripada yang baik. Bahkan banyak orang menganggap Tuhan itu tidak adil dan tidak baik karena ia mengalami hal-hal yang buruk, padahal sebenarnya apa yang dia alami adalah hal-hal yang lumrah, hal-hal yang wajar saja yang juga dialami oleh kebanyakan orang lain. Hal ini membuat orang mengasihi diri sendiri dan tenggelam dalam pernyataan “betapa malang hidupku ini.”

Ada orang yang berdalih dan menuntut,”Tuhan tidak adil. Kalau ini terjadi atas hidup saya, berarti Tuhan tidak adil!” Perhatikan, biasanya yang dipersoalkan adalah “ketidak-adilan” Tuhan itu yang merugikan kita. Tetapi pernahkah kita berkata Tuhan itu tidak adil atas apa yang baik yang terjadi atas hidup kita. Misalnya, pernahkah kita berkata,”Wah, Tuhan tidak adil. Mengapa saya punya kedua orang tua, bisa makan enak tiga kali sehari, sementara di luar sana, di Ethiopia sana banyak sekali anak yang tidak punya orang tua dan tidak bisa makan.” Itulah yang sering kita lakukan, kita protes kepada Tuhan dan menganggap Dia tidak adil, hanya kerena hal-hal yang buruk yang kita alami. Ini bukan sikap yang positif dan ini sikap yang seharusnya tidak kita kembangkan.

Bukankah hal ini juga tidak adil, tetapi kita tidak mempersoalkannya: ada banyak orang yang lahir cacat kaki, cacat tangan, cacat anggota tubuh, dan kalau kita memiliki anggota tubuh yang sempurna, bukankah itu sebuah ketidak-adilan? Tetapi kita tidak mempersoalkannya. Apa artinya? Artinya sikap seperti itu hanya muncul bagi orang-orang yang selalu berpikir negatif, bersikap negatif dan bereaksi negatif.

Seorang yang sukses dan bijaksana bernama Robert Fullen memberikan nasihat: “Jika Anda menghitung semua berkat yang Anda terima, Anda pasti akan mendapati diri Anda sebagai orang yang beruntung. Hanya saja, banyak orang tidak menghitung berkatnya, tetapi menghitung kelemahannya.”

Sikap negatif ini juga muncul dan saya jumpai dalam kehidupan berumah tangga. Sebagai contoh misalnya, saya pernah memimpin sebuah retreat untuk couples. Ada sekitar 300 couples hadir. Saya memberi kertas warna biru, lalu saya memberikan instruksi, “Tuliskan hal-hal yang tidak disukai dari pasangan masing-masing dan apa yang sedang Saudara doakan untuk pasanganmu berubah.” Maka mereka mulai sibuk menulis. Beberapa orang angkat tangan dan minta tambah kertas. Saya pun membagikan kertas tambahan. Kertas tambahan habis, maka saya menyuruh mereka menuliskan di balik lembar kertas yang masih kosong. Kemudian kertas itu dikumpulkan dengan alasan kita akan doakan. Selanjutnya saya membagikan kertas berwarna pink dengan instruksi agar mereka menuliskan hal-hal yang baik dari pasangannya. Dan saya mulai menjumpai tingkah laku aneh. Banyak orang yang garuk-garuk kepala, lalu menulis beberapa kalimat dan selesai. Kesimpulannya, terlalu banyak orang yang bisa mencari-cari hal negatif, ketimbang melihat hal-hal yang positif.

Biasanya orang membandingkan diri secara tidak adil pula dalam hal yang lain untuk dirinya sendiri, misalnya dia menemukan hal-hal yang buruk pada dirinya dan membandingkan dengan orang lain yang jauh lebih baik. Seseorang memandang wajahnya lalu berkata,”Kok wajah saya tidak cantik.” Itu karena ia membandingkan dirinya dengan artis film. Seseorang menganggap dirinya tidak pandai karena ia membandingkan dirinya dengan bintang pelajar atau Albert Einstein. Mengapa ia tidak membandingkan dengan orang yang di bawahnya dia? Oleh sebab itu, dalam hidup ini kita perlu memandang ke atas untuk memotivasi, tetapi juga memandang ke bawah agar kita bisa bersyukur.

Bila kita selalu melihat orang-orang yang kaya, dan melihat apa yang tidak kita punyai, menghitung yang tidak kita miliki, maka kita bisa mati dalam kepahitan, karena banyak sekali yang tidak kita miliki. Orang yang sudah punya rumah besar pun, dia belum punya helikopter. Yang punya helikopter tidak punya kapal pesiar. Kalau kita selalu menghitung apa yang tidak kita punya, memang di dunia ini banyak yang tidak kita punyai. Namun bila kita mulai menghitung apa yang kita miliki, sebenarnya kita punya sesuatu.

Ada sebuah pernyataan dari Benyamin Franklin yang bisa kita jadikan inspirasi: ”Siapakah orang kaya? Orang kaya adalah orang yang bersuka dengan bagian yang ia terima.” Kembangkan sikap positif seperti ini, maka saya yakin Anda sedang berada pada jalan yang benar, jalan menuju sukses.

SUKSES DAN BAHAGIA

Hidup perlu sukses. Tapi apa arti sukses kalau tidak bahagia. Atau saya buat pernyataan yang lain, orang yang sukses adalah orang yang hidupnya bahagia. Lalu, bagaimana berbahagia? Saya akan menceritakan sebuah kisah yang akan kita ambil prinsip hidupnya dan bisa kita pelajari menjadi inspirasi sukses bagi kita semua.

Ny. Moon begitu sedih. Ini kisah seorang ibu yang tinggal di Five Avenue, New York, yang baru saja kehilangan suaminya, William Moon. Ny. Moon begitu sedih setiap malam tiba. Kadang-kadang ia tidak sadar kalau suaminya sudah meninggal. Ketika ia tidur, ia sering meraba sisi tempat tidur yang biasanya ada suaminya tidur di sisinya. Ia mencari-cari suaminya, dan tentu saja ia hanya mendapati bantal guling. Barulah ia tersentak dan sadar bila suaminya sudah meninggal. Itu terjadi beberapa malam setelah kepergian suaminya. Dan ia tidak bisa tidur lagi. Ia hanyut dalam kesendirian, kesepian dan kepedihan yang mendalam. Ia menyesal mengapa ia tidak mati bersama-sama dengan suaminya. Dan memang, saya jarang mendapati couples yang mati bersama-sama. 99,99% pasangan suami istri akan mati salah satu terlebih dahulu. Dan yang satu akan menghadapi situasi kesendirian seperti yang dialami Ny. Moon itu.

Ny. Moon benar-benar sangat menderita hatinya. Ia malas untuk pergi ke pertemuan-pertemuan sosial, karena akan menjumpai pasangan-pasangan lain di sana yang membuatnya akan semakin bersedih, karena dia tinggal seorang diri. Ia mulai mengurung diri, mengurangi pergaulannya dan menikmati kesendiriannya, tetapi dalam kepedihan hatinya. Di tengah situasi seperti itu, ia sering naik bus yang melewati rute-rute yang biasa ia jalani bersama suaminya. Sekedar naik bus tanpa tujuan. Ketika ia naik bus, turun, ganti bus lagi, naik bus, ganti bus lagi, ia sampai pada pinggiran kota New York. Tempat itu begitu sepi. Dan ia mulai berjalan dan berjalan tanpa tujuan, sekedar menghabiskan waktu saja. Sampai akhirnya ia tertarik untuk melihat sebuah bangunan gereja kecil. Waktu itu menjelang sore, dan ada alunan musik lembut dari dalam gereja itu. Ia pun masuk ke dalam gereja itu. Ia duduk di kursi bagian belakang. Karena bukan hari minggu, maka tempat itu kosong. Alunan musik organ yang lembut membuatnya tanpa sadar mengantuk dan tertidur di sana.

Pagi harinya ia terbangun dan terkejut, karena ternyata ada tiga anak yang juga tidur di sampingnya. Ketika ia bangun dan anak-anak itu pun terbangun dan menjadi ketakutan. Lalu janda Moon ini berkata,”Jangan takut, Nak. Saya bukan orang jahat. Saya hanya tertidur di sini”

Mata Ny. Moon memperhatikan ketiga anak yang ada di hadapannya itu. Pakaian mereka lusuh dan compang-camping, kaki mereka tidak bersepatu, tubuhnya kurus dan dekil. Tiba-tiba timbul rasa belas kasihan dalam hatinya.

“Kalian sudah makan, Nak,” tanya Ny. Moon. Ketiga anak itu menjawab,”Sudah tiga hari kami tidak makan, Tante.” Lalu Ny. Moon pun mengajak mereka makan. Ia membelikan makanan dan minuman, dan anak-anak yang kelaparan itu menghabiskan sampai begitu bersih dan tidak tersisa lagi. Setiap tulang yang masih tersisa, yang masih bisa dimakan, dimakan juga. Bahkan sausnya mereka jilati sampai benar-benar bersih.

Dengan mata mereka berbinar-binar mereka berkata kepada Ny. Moon,”Tante, terimakasih. Kami belum pernah makan makanan yang seperti ini. Maafkan kami kalau kami jorok dan tidak sopan.” Wajah mereka berseri-seri dan mereka begitu senang dengan makanan seharga 20 dolar itu.

Mendadak ada sesuatu mengalir dalam hati Ny. Moon. Satu perasaan yang selama ini telah hilang dari sanubarinya. Yaitu perasaan bahagia. Dia mulai merasakan kebahagiaan. Ternyata hanya dengan 20 dolar, ia bisa membuat tiga anak kecil begitu berbinar-binar matanya, berseri-seri wajahnya dan begitu bahagia. Ny. Moon mulai menjumpai sebuah kunci kebahagiaan. Ternyata dengan membuat orang lain bahagia, ia menemukan kebahagiaan pula.

Ny. Moon pulang dengan membawa sebuah konsep hidup yang baru: “Saya bisa bahagia kalau saya membahagiakan orang lain. Saya masih punya rumah, saya punya uang, saya bisa makan rutin setiap hari, tetapi begitu banyak orang yang tidak memiliki kesempatan seperti saya. Selama ini saya hidup untuk diri saya sendiri dan itu membuat saya larut dalam kesedihan. Selama ini saya punya prinsip hidup hanya untuk diri sendiri. Saya bekerja keras mengumpulkan uang, membangun rumah, saya akan menikmatinya, dan itu untuk diri saya sendiri. Saya bahkan tidak pernah memberi, tidak pernah mengikuti kegiatan sosial. Saya tidak pernah berpikir soal memberi, karena saya berpikir ini adalah hak saya, hasil keringat saya, maka saya bisa menikmatinya sendiri. Namun ternyata menikmati kekayaan di dalam kesendirian tidak menghasilkan kebahagiaan. Namun ketika saya mengambil sebagian kecil dari milik saya dan saya berbagi dengan orang lain, itu membuat orang lain bahagia. Dan membuat orang lain bahagia membuat saya berbahagia juga.”

Itulah prinsip hidup Ny. Moon yang baru yang membuatnya bahagia, yang ia temukan di tengah-tengah kesendiriannya. Di dunia ini masih banyak orang lain yang bisa dibahagiakan. Kalau engkau mendapat prinsip yang sama, maka saya yakin, engkau juga akan menjadi orang yang sukses, dalam arti hidup berbahagia.

MENEMBUS BATAS USIA

Semua orang ingin sukses tapi banyak halangan untuk sukses. Dan halangan terbesar bukan di luar dirinya, tapi di dalam dirinya sendiri, yaitu di dalam pikirannya. Ada orang yang berfikir bahwa saya masih terlalu muda apa saya bisa sukses. Saya akan beri tahu Anda, bahwa umur bukan halangan untuk sukses. Kalau anda berfikir umur adalah halangan untuk sukses, maka yang menjadi halangan bukan umur Anda tetapi pikiran Anda yang menyatakan begitu.

Banyak orang berpikir saya masih terlalu muda, saya tidak mungkin bisa. Barangkali mereka terlalu banyak nonton iklan media yang berkata “Yang muda yang tidak dipercaya. Yang muda tidak punya hak bicara”. Tapi itu hanya iklan. Itu bukan kebenaran. Pergilah ke kantor-kantor, perusahaan-perusahaan multinasional, entah itu Unilever, Orang Tua Group, Trans Corporation, perbankan, atau perusahaan-perusahaan besar di Indonesia, maka Anda akan melihat orang-orang berusia muda 25-30 tahun menjadi produk manager, marketing manager, promotion manager.

Usia bukanlah halangan untuk sukses. “Tapi bagaimana dengan saya yang sudah terlalu tua, Pak?” tanya seorang peserta seminar sukses yang saya pimpin. Tua pun juga bukan halangan untuk sukses. Nelson Mandela, seorang tahanan politik ternama. Ia dipenjara hampir seperempat abad, akhirnya menjadi presiden Afrika Selatan saat berumur 76 tahun. Ronald Reagen menjadi presiden Amerika Serikat pada umur 72 tahun. Kolonel Sanders, pendiri Kentcky Fried Chicken memulai usaha restorannya pada usia 65 tahun dan pada usia 70 tahun restorannya mulai di-francaise-kan, dan hingga saat ini KFC telah mendunia. Dalam bidang kerohanian, mungkin semua kenal Nabi Musa yang kenabiannya diakui oleh agama Kristen, Katolik, Islam dan Yahudi. Ia juga mulai memimpin bangsanya ketika ia berusia 80 tahun. Jadi memang benar bahwa usia bukanlah halangan untuk sukses. Kalau saya boleh memberi saran, maka “Lupakan usiamu, lakukan saja apa yang seharusnya engkau lakukan!”

Saya pernah mendapat SMS, seorang bapak konsultasi dengan saya. “Pak, bapak saya mau menikah lagi. Ibu saya sih sudah meninggal. Apa bapak saya boleh menikah lagi?” Saya menjawab,”Kalau istrinya sudah meninggal boleh saja menikah lagi.” Lalu ia menjawab,”Tapi bapak saya usianya sudah 68 tahun.” Wah, rupanya bapaknya ikut seminar saya dan menangkap pesan saya terakhir, “Lupakan usiamu, lakukan saja apa yang seharusnya engkau lakukan!”

Nah, kalau orang yang berumur 68 tahun saja ingin menikah lagi, saya prihatin dengan anak-anak muda yang tidak berani menikah. Kalau muda tidak berani menikah, apa mau menunggu sampai umur 68 tahun baru menikah? Jadi untuk menikah, untuk usaha, untuk berdagang, untuk bisnis, untuk kegiatan sosial, untuk urusan apa saja, usia bukan halangan. “Lupakan usiamu, lakukan saja apa yang seharusnya engkau lakukan!” Setiap orang berapapun usianya punya hak untuk sukses dan berhasil.

MENEMBUS BATAS TEMPERAMEN DASAR


Semua orang ingin sukses tapi banyak halangan untuk sukses. Dan halangan terbesar bukan di luar dirinya, tapi di dalam dirinya, yaitu di dalam pikiran manusia itu sendiri. Ada orang yang berfikir bahwa temperamen dasarnya adalah halangan untuk sukses. Banyak orang membangun image dirinya sendiri secara salah dan berkata,”Memang saya dari sananya begini. Memang saya orangnya memang tidak suka nulis. Memang saya orang yang tidak suka jalan-jalan. Memang saya orang yang tidak rapi. Memang saya orangnya tidak suka ini, tidak suka itu.”

Itu memang tidak salah, tetapi juga tidak seratus persen benar. Kalau Anda belajar mengenai temperamen dasar dan mengenal orang sanguin, plegmatik, kolerik, melankolik. Memang itu betul. Saya mau katakan itu bahan baku. Waktu kita di bangku SMA pernah belajar bahwa bisa terjadi perubahan terhadap genetik, itu namanya mutasi genetik. Artinya temperamen dasarpun bisa diubahkan. Kalau engkau mengenal dirimu sebagai salah satu temperamen dasar tertentu, engkau tahu kelebihanmu, dan engkau tahu kekuranganmu. Terima kelebihanmu dengan bersyukur kepada Tuhan, tetapi tentang kekuranganmu, engkau bisa melatihnya secara sadar, secara terus menerus dalam jangka waktu yang panjang, maka sebenarnya genetik bisa berubah.

Saya berikan contoh dari hidup saya sendiri. Pada waktu saya masuk ke perusahaan Astra Internasional tahun 1990 dalam kelompok manajemen training, maka saya ditest. Dari hasil test itu, diketahui bahwa 95% temperamen dasar saya adalah Sanguinis, dengan kelebihan dan kekurangannya, di antaranya, orang sanguin tidak suka menulis, lebih suka bicara, lebih suka bergaul, lihat angka pusing, kurang teliti, tetapi cenderung mudah memaafkan, lucu atau humoris, dan sebagainya.

Dari segi tidak suka menulis itulah saya. Jangankan menulis, agenda saja saya tidak punya. Tidak punya catatan pelajaran, semuanya mengalir begitu saja. Ketika saya menyadari hal ini, maka saya mulai latihan menulis. Saat saya diundang untuk menjadi pembicara seminar, saya memaksa diri untuk sebisa mungkin membuat makalah. Selanjutnya makalah itu saya tambahi, saya pertebal, saya edit, maka tahun 1998 jadilah sebuah buku tipis 30-34 halaman. Saya cetak dan saya bagikan kepada peserta seminar. Saat seminar berlangsung ada tanya jawab, saya evaluasi lagi, saya edit dan saya tambahi hal-hal yang perlu, semakin tajam, semakin dalam saya bahas isinya, dipertebal lagi, maka kalau hari ini saya meluncurkan buku HIDUP MAKSIMAL, itu adalah karya saya yang ke-24, bulan depan akan menyusul dua judul lagi. Jadi dari tahun 2000-2007 sudah ada 26 judul buku yang saya tulis. Kalau dihitung-hitung, maka dalam satu tahun saya menulis sekitar 3-4 judul buku. Dan saya konsisten. Saya tulis sendiri, karena saya tidak punya tim penulis.

Melihat banyaknya buku yang saya tulis, banyak orang heran. Orang sanguin kok bisa menulis buku. Saya menjawab mereka bahwa temperamen dasar bukanlah halangan untuk maju, untuk sukses. Kelemahannya bisa secara sadar dilatih dan ditutupi. Saya dasarnya tidak suka menulis, tetapi berubah menjadi penulis buku yang produktif, karena saya melatih diri saya. Jadi, jangan berlindung di balik alasan “Memang saya dari sananya begini.” Kalau engkau berfikir bahwa engkau tidak bisa berubah, maka engkau tidak akan berubah. Yang membuat engkau tidak bisa berubah bukan kerana tidak bisa ada perubahan genetik, tetapi karena engkau berpikir engkau tidak bisa berubah, maka itulah yang membuat engkau tidak berubah. Tetapi bila engkau berpikir engkau bisa berubah, maka engkau bisa berubah. Setiap orang bisa berubah, setiap orang bisa sukses, setiap orang bisa berhasil.

MENEMBUS BATAS SUKU

Semua orang ingin sukses tapi banyak halangan untuk sukses. Dan halangan terbesar bukan di luar dirinya, tapi di dalam dirinya, yaitu di dalam pikiran manusia itu sendiri. Ada orang yang berfikir bahwa sukunya adalah halangan untuk sukses. Padahal sebenarnya suku bukan halangan untuk sukses, tetapi pikirannya yang menghalangi dia untuk sukses.

Banyak orang berpikir bahwa suku itu menghalangi. Contohnya, saya tanya pada seseorang. “Kamu mau menikah nggak?” Dia menjawab,”Ya mau, Om.” Saya tanya lagi,”Mau menikah dengan siapa?” Dia menjawab,”Mau menikah dengan bule.”

Tidak salah menikah dengan bule. Tetapi sering saya tanya motivasinya apa. Dan kebanyakan menjawab,”Untuk memperbaiki keturunan.” Nah, memangnya ada apa dengan keturunanmu? Ini namanya inlander spirit, orang yang merasa bahwa sukunya lebih rendah dari suku yang lain. Dan sikap seperti ini menghalangi banyak orang untuk sukses.

Bisa dipahami bahwa beratus-ratus tahun bangsa Asia, atau Timur merasa lebih rendah dari bangsa Barat. Karena penjajahan selama jangka waktu yang begitu panjang, ratusan tahun. Tetapi pada awal abad XX, saat Jepang menang perang terhadap Rusia di Pulau Kuriu. Ini meningkatkan martabat bangsa Asia dan ternyata bangsa Asia tidak lebih rendah dari bangsa Barat asalkan mau berusaha. Kemenangan Jepang ini memicu prang kemerdekaan di kawasan Asia. Selanjutnya, tahun demi tahun, bangsa demi bangsa mulai memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Jadi sebenarnya, suku bukan halangan. Semua suku bisa sukses, semua suku bisa berhasil, karena memang sebenarnya hak semua bangsa untuk sukses atau berhasil. Suku bukan kendala untuk maju, tetapi kalau kita berpikir seperti itu. Halangan bukan karena sukunya, tetapi karena ia berpikir demikian.

Saya beri contoh diri saya sendiri. Saya orang Jawa lahir di Karang Pandan, sekitar Solo-Gunung Lawu. Orang Jawa adalah orang yang punya kultur lahir sebagai pegawai. Ketika di SMA diadakan survey, nanti mau jadi apa, maka 95% menjawab ingin menjadi pegawai: pegawai negeri atau pegawai swasta. Hanya 3-5 persen yang yang ingin menjadi pedagang, pengusaha atau enterpreneur. Orang Jawa secara umum memang menjadi pegawai atau petani, kalaupun ada pedagang, maka yang muncul, dimana-mana, kemana kita pergi, maka yang ada hanya pedagang bakso, Bakso Solo atau kalau Madura, jualan sate.

Nah, itu adalah stigma. Orang sering minder karena sukunya. Suku juga ada stigma. Tetapi apakah itu adalah sebuah kebenaran? Kadang-kadang kebenaran itu berdasarkan kenyataan. Ketika saya bekerja di perusahaan swasta nasional, yaitu Astra, saya bisa melihat bahwa para manager ke atas kebanyakan bermata sipit atau orang Tionghoa. Itu membuat stigma semakin kental bagi diri saya, bahwa saya tidak akan sukses menjadi pengusaha, tetapi hanya menjadi pegawai.

Namun, stigma tentang suku ini berubah ketika saya bergaul semakin luas. Banyak buyer, atau pedagang, pengusaha dari Cekoslovakia, Etiopia, India, Arab. Ternyata banyak bangsa-bangsa juga berdagang. Ini membuka pikiran saya bahwa sebenarnya suku bukan halangan untuk berdagang, Ketika pikiran saya berubah, maka saya semakin semangat menjadi sales di Astra Export. Dan tahun 1992 saya mengambil keputusan keluar dan membuka perusahaan sendiri. Dan sampai hari ini masih berlangsung. Itulah MLM IFA yang saya dirikan bersama partner saya Pak Tomo. Saya berdagang dan ternyata bisa. Suku Jawa ternyata bisa berdagang. Jadi kenyataan, belum tentu sebuah kebenaran. Kenyataan membentuk stigma, tetapi kebenaran adalah kebenaran dan kebenarannya adalah semua orang punya hak untuk sukses, untuk maju dan tidak tergantung sukunya.