Untuk info seminar dan mengundang sebagai pembicara seminar hubungi 021-7364885 atau via email: jarotwj@yahoo.com

Sabtu, 12 Februari 2011

CHARLES BOUDIN, TELADAN

Ada seorang berkebangsaan Kanada yang bernama Charles Boudin. Ia pernah berjalan di atas seutas kawat 340 meter, yang direntangkan dari satu bukit ke bukit lainnya sementara di bawahnya jurang dengan sungai berarus deras. Hanya dengan tongkat seberat 18 kg dan panjangnya 18 m, dia menjaga keseimbangan tubuhnya saat berjalan di atas kawat. Semua orang yang menyaksikan peristiwa itu menahan nafas, karena itu merupakan pertunjukan yang mencekam. Resikonya kalau dia salah langkah, salah perhitungan, terpeleset akan mati, karena ia tidak menyediakan jaring pengaman (safety net), artinya kalau ia jatuh, maka ia akan mati. Tetapi luar biasa, Charles bisa melakukannya dengan baik. Ia bisa mencapai bukit yang satunya sejauh 340 meter dengan selamat. Ketika ia sampai di bukit itu, ia menantang para penonton yang ada di situ.

“Apakah Anda percaya kalau saya akan kembali lagi dengan selamat?” Semua penonton serempak menjawab,”Percaya!”

“Bagaimana kalau saya mengajak salah satu dari Anda bersama dengan saya.” Maka semua orang mulai beralasan. Ada yang berkata,”Jangan saya, saya terlalu gemuk, nanti takut jatuh.” Yang lain bilang,” saya takut ketinggian.” Dan masih banyak alasan lainnya.

“Tetapi, Anda percaya kalau saya bisa menyeberang kembali?” Dan semua kembali menjawab,”Percaya!” Tetapi tetap saja tidak ada yang merespon dalam tindakan nyata.
Akhirnya ada seorang anak muda, bernama Henry, maju dan bersedia menyertai Charles Boudin. Semua orang yang ada di situ mulai berkata,”Kamu hebat sekali, berani sekali.”

Henry memberanikan diri karena ia percaya pada Charles Boudin. Ia segera naik menemui Charles Boudin. Sebelum berangkat Henry diberi petunjuk: Ikuti saja langkah saya, pegang bahu saya erat-erat dan tetap terus memandang bahu saya. Jangan lihat ke kiri, ke kanan atau ke bawah kalau tidak mau jatuh. Pada awal perjalanan memang tidaklah susah, tetapi ketika sampai di tengah, saat angin menerpa dan kawat itu terayun-ayun, dia sulit sekali melanjutkan perjalanannya. Henry mengalami peristiwa yang menegangkan dan menakutkan, tetapi Charles Boudin mengingatkan,”Tetap fokus pada bahu saya, jangan lihat kiri dan kanan dan ikuti gerakan saya.”

Maka Henry mengikuti setiap gerakan Boudin dengan teliti. Ia memandang ke depan pada bahu Boudin. Akhirnya Henry berhasil sampai ke seberang bersama Boudin. Semua yang menyaksikan hal itu memberikan applause yang meriah. Kisah nyata ini terjadi pada 30 juli 1958.

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini? Untuk berhasil kita butuh figur, contoh atau teladan. Kita perlu melihat dengan teliti setiap gerakannya dan mengikutinya. Jika Anda ingin sukses, ingin berhasil, marilah kita berhikmat. Carilah figur seorang yang sukses, lihat terus dia, amati gerakannya dan ikuti dari belakang. Untuk sukses kita perlu diinspirasi oleh seseorang yang sudah sukses. Bila perlu jadikan dia mentor dalam hidupmu. Undanglah dia untuk menjadi mentormu. Amati kehidupannya dengan teliti, ikuti gerakannya, jangan tengok kanan-tengok kiri, maka engkau akan menjadi sukses sebagaimana dia sukses.

TELITI DALAM HAL KECIL

Pernah ada cerita tentang 3 orang tukang batu yang sedang menumpuk batu bata. Orang pertama ditanya,”Pak, Anda sedang melakukan apa?” Dia menjawab,”Saya sedang menumpuk batubata.” Orang kedua ditanya,”Bapak sedang melakukan apa?” Dia menjawab, “Saya sedang membuat dinding. Tukang batu ketiga ditanya pertanyaan yang sama,”Apa yang sedang bapak lakukan?” Tukang batu ketiga menjawab,”Saya sedang membangun sebuah rumah yang paling besar dan indah di kota ini.”

Anda mengerti maksud saya? Tukang batu pertama tidak memiliki visi, atau pandangan yang jauh ke depan tentang apa yang dia lakukan. Tukang batu kedua, lebih lumayan punya visi yang lebih jauh. Tetapi tukang batu ketiga memiliki pandangan yang sangat jauh ke depan, yaitu membuat rumah yang besar dan indah. Anda bisa bayangkan, hasil kerja yang didapat oleh tukang batu tersebut? Tukang batu ketiga akan memberikan hasil yang paling sesuai dengan keinginan yang diharapkan sang arsitek, dibanding dengan tukang batu pertama dan kedua, yaitu membangun rumah yang besar dan indah. Wajar saja bila tukang batu ketiga akan mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi. Pertanyaannya: Apakah Anda memiliki visi dengan apa yang anda kerjakan atau lakukan saat ini? Apakah Anda memiliki visi ke depan tentang pekerjaan, usaha, kegiatan sosial, atau kegiatan sehari-hari yang anda lakukan? Apakah terkait satu dengan yang lain? Ataukah Anda mengalir begitu saja.

Atau Anda memilki visi ke depan tentang hidup Anda dan semua yang Anda kerjakan sebenarnya terkait satu dengan yang lain dalam kerangka membangun sebuah rumah yang besar dan indah. Anda berolahraga, Anda bergaul, Anda berjejaring dalam sosial, melakukan kegiatan ini dan itu, semuanya dalam sebuah kerangka besar yang sedang Anda tuju. Bila Anda orang yang seperti itu, maka Anda adalah orang yang memiliki mimpi dan visi besar, dan waktu akan membuktikan suatu saat Anda akan berhasil.
Sudahkah Anda menuliskan semua visi Anda dalam sebuah kertas. Ataukah Anda hanya menjalaninya begitu saja pekerjaan Anda dan mengalir seperti air.

Jangan lupa kesuksesan datang karena direncanakan. Bila tidak direncanakan maka kesuksesan tidak akan datang, bahkan seandainya kesuksesan datang Anda tidak akan tahu kapan waktunya. Bila Anda tidak mempersiapkan keberhasilan, maka Anda sedang mempersiapkan kegagalan bagi hidup Anda. Karena itu mari kita menjadi bijaksana dengan memiliki tujuan dalam hidup kita, baik tujuan jangka panjang, mimpi, cita-cita dan angan-angan atau tujuan-tujuan kecil jangka pendek yang akan kita lakukan dengan teliti, dengan antusias, dengan bergairah, karena semua hal-hal kecil yang kita lakukan, kita sadari itu semua ada kaitannya dalam tujuan jangka panjang.

Sebagaimana seorang tukang batu melakukan pekerjaan dengan teliti, seperti membuat dinding, membuat kusen, tapi hal kecil itu dia lakukan ada kaitannya dengan sebuah bangunan besar dan indah yang sedang ia impikan. Mari kita impikan sebuah visi dan masa depan yang besar dan kita menjalaninya langkah demi langkah dengan mulai mengerjakan hal-hal kecil dengan teliti. Kita semangat melakukannya karena ada kaitannya dengan hal yang besar yang kita impikan. Mari kita sukses dengan menjadi bijaksana.