Untuk info seminar dan mengundang sebagai pembicara seminar hubungi 021-7364885 atau via email: jarotwj@yahoo.com

Kamis, 30 September 2010

MENEMBUS BATAS TEMPERAMEN DASAR


Semua orang ingin sukses tapi banyak halangan untuk sukses. Dan halangan terbesar bukan di luar dirinya, tapi di dalam dirinya, yaitu di dalam pikiran manusia itu sendiri. Ada orang yang berfikir bahwa temperamen dasarnya adalah halangan untuk sukses. Banyak orang membangun image dirinya sendiri secara salah dan berkata,”Memang saya dari sananya begini. Memang saya orangnya memang tidak suka nulis. Memang saya orang yang tidak suka jalan-jalan. Memang saya orang yang tidak rapi. Memang saya orangnya tidak suka ini, tidak suka itu.”

Itu memang tidak salah, tetapi juga tidak seratus persen benar. Kalau Anda belajar mengenai temperamen dasar dan mengenal orang sanguin, plegmatik, kolerik, melankolik. Memang itu betul. Saya mau katakan itu bahan baku. Waktu kita di bangku SMA pernah belajar bahwa bisa terjadi perubahan terhadap genetik, itu namanya mutasi genetik. Artinya temperamen dasarpun bisa diubahkan. Kalau engkau mengenal dirimu sebagai salah satu temperamen dasar tertentu, engkau tahu kelebihanmu, dan engkau tahu kekuranganmu. Terima kelebihanmu dengan bersyukur kepada Tuhan, tetapi tentang kekuranganmu, engkau bisa melatihnya secara sadar, secara terus menerus dalam jangka waktu yang panjang, maka sebenarnya genetik bisa berubah.

Saya berikan contoh dari hidup saya sendiri. Pada waktu saya masuk ke perusahaan Astra Internasional tahun 1990 dalam kelompok manajemen training, maka saya ditest. Dari hasil test itu, diketahui bahwa 95% temperamen dasar saya adalah Sanguinis, dengan kelebihan dan kekurangannya, di antaranya, orang sanguin tidak suka menulis, lebih suka bicara, lebih suka bergaul, lihat angka pusing, kurang teliti, tetapi cenderung mudah memaafkan, lucu atau humoris, dan sebagainya.

Dari segi tidak suka menulis itulah saya. Jangankan menulis, agenda saja saya tidak punya. Tidak punya catatan pelajaran, semuanya mengalir begitu saja. Ketika saya menyadari hal ini, maka saya mulai latihan menulis. Saat saya diundang untuk menjadi pembicara seminar, saya memaksa diri untuk sebisa mungkin membuat makalah. Selanjutnya makalah itu saya tambahi, saya pertebal, saya edit, maka tahun 1998 jadilah sebuah buku tipis 30-34 halaman. Saya cetak dan saya bagikan kepada peserta seminar. Saat seminar berlangsung ada tanya jawab, saya evaluasi lagi, saya edit dan saya tambahi hal-hal yang perlu, semakin tajam, semakin dalam saya bahas isinya, dipertebal lagi, maka kalau hari ini saya meluncurkan buku HIDUP MAKSIMAL, itu adalah karya saya yang ke-24, bulan depan akan menyusul dua judul lagi. Jadi dari tahun 2000-2007 sudah ada 26 judul buku yang saya tulis. Kalau dihitung-hitung, maka dalam satu tahun saya menulis sekitar 3-4 judul buku. Dan saya konsisten. Saya tulis sendiri, karena saya tidak punya tim penulis.

Melihat banyaknya buku yang saya tulis, banyak orang heran. Orang sanguin kok bisa menulis buku. Saya menjawab mereka bahwa temperamen dasar bukanlah halangan untuk maju, untuk sukses. Kelemahannya bisa secara sadar dilatih dan ditutupi. Saya dasarnya tidak suka menulis, tetapi berubah menjadi penulis buku yang produktif, karena saya melatih diri saya. Jadi, jangan berlindung di balik alasan “Memang saya dari sananya begini.” Kalau engkau berfikir bahwa engkau tidak bisa berubah, maka engkau tidak akan berubah. Yang membuat engkau tidak bisa berubah bukan kerana tidak bisa ada perubahan genetik, tetapi karena engkau berpikir engkau tidak bisa berubah, maka itulah yang membuat engkau tidak berubah. Tetapi bila engkau berpikir engkau bisa berubah, maka engkau bisa berubah. Setiap orang bisa berubah, setiap orang bisa sukses, setiap orang bisa berhasil.

MENEMBUS BATAS SUKU

Semua orang ingin sukses tapi banyak halangan untuk sukses. Dan halangan terbesar bukan di luar dirinya, tapi di dalam dirinya, yaitu di dalam pikiran manusia itu sendiri. Ada orang yang berfikir bahwa sukunya adalah halangan untuk sukses. Padahal sebenarnya suku bukan halangan untuk sukses, tetapi pikirannya yang menghalangi dia untuk sukses.

Banyak orang berpikir bahwa suku itu menghalangi. Contohnya, saya tanya pada seseorang. “Kamu mau menikah nggak?” Dia menjawab,”Ya mau, Om.” Saya tanya lagi,”Mau menikah dengan siapa?” Dia menjawab,”Mau menikah dengan bule.”

Tidak salah menikah dengan bule. Tetapi sering saya tanya motivasinya apa. Dan kebanyakan menjawab,”Untuk memperbaiki keturunan.” Nah, memangnya ada apa dengan keturunanmu? Ini namanya inlander spirit, orang yang merasa bahwa sukunya lebih rendah dari suku yang lain. Dan sikap seperti ini menghalangi banyak orang untuk sukses.

Bisa dipahami bahwa beratus-ratus tahun bangsa Asia, atau Timur merasa lebih rendah dari bangsa Barat. Karena penjajahan selama jangka waktu yang begitu panjang, ratusan tahun. Tetapi pada awal abad XX, saat Jepang menang perang terhadap Rusia di Pulau Kuriu. Ini meningkatkan martabat bangsa Asia dan ternyata bangsa Asia tidak lebih rendah dari bangsa Barat asalkan mau berusaha. Kemenangan Jepang ini memicu prang kemerdekaan di kawasan Asia. Selanjutnya, tahun demi tahun, bangsa demi bangsa mulai memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Jadi sebenarnya, suku bukan halangan. Semua suku bisa sukses, semua suku bisa berhasil, karena memang sebenarnya hak semua bangsa untuk sukses atau berhasil. Suku bukan kendala untuk maju, tetapi kalau kita berpikir seperti itu. Halangan bukan karena sukunya, tetapi karena ia berpikir demikian.

Saya beri contoh diri saya sendiri. Saya orang Jawa lahir di Karang Pandan, sekitar Solo-Gunung Lawu. Orang Jawa adalah orang yang punya kultur lahir sebagai pegawai. Ketika di SMA diadakan survey, nanti mau jadi apa, maka 95% menjawab ingin menjadi pegawai: pegawai negeri atau pegawai swasta. Hanya 3-5 persen yang yang ingin menjadi pedagang, pengusaha atau enterpreneur. Orang Jawa secara umum memang menjadi pegawai atau petani, kalaupun ada pedagang, maka yang muncul, dimana-mana, kemana kita pergi, maka yang ada hanya pedagang bakso, Bakso Solo atau kalau Madura, jualan sate.

Nah, itu adalah stigma. Orang sering minder karena sukunya. Suku juga ada stigma. Tetapi apakah itu adalah sebuah kebenaran? Kadang-kadang kebenaran itu berdasarkan kenyataan. Ketika saya bekerja di perusahaan swasta nasional, yaitu Astra, saya bisa melihat bahwa para manager ke atas kebanyakan bermata sipit atau orang Tionghoa. Itu membuat stigma semakin kental bagi diri saya, bahwa saya tidak akan sukses menjadi pengusaha, tetapi hanya menjadi pegawai.

Namun, stigma tentang suku ini berubah ketika saya bergaul semakin luas. Banyak buyer, atau pedagang, pengusaha dari Cekoslovakia, Etiopia, India, Arab. Ternyata banyak bangsa-bangsa juga berdagang. Ini membuka pikiran saya bahwa sebenarnya suku bukan halangan untuk berdagang, Ketika pikiran saya berubah, maka saya semakin semangat menjadi sales di Astra Export. Dan tahun 1992 saya mengambil keputusan keluar dan membuka perusahaan sendiri. Dan sampai hari ini masih berlangsung. Itulah MLM IFA yang saya dirikan bersama partner saya Pak Tomo. Saya berdagang dan ternyata bisa. Suku Jawa ternyata bisa berdagang. Jadi kenyataan, belum tentu sebuah kebenaran. Kenyataan membentuk stigma, tetapi kebenaran adalah kebenaran dan kebenarannya adalah semua orang punya hak untuk sukses, untuk maju dan tidak tergantung sukunya.